Friday, January 18, 2008

Kesalahan Utama Dalam Memulai Bisnis

Mengapa ketika memulai bisnis seringkali dihadapkan pada banyak kendala, bahkan tidak sedikit yang gagal?”… ini adalah pertanyaan klasik yang kerap dilontarkan oleh entrepreneur. Pertanyaan ini juga biasanya menciutkan nyali para entrepreneur lainnya yang akan mengawali ativitas bisnis.

Dari penelitian dan pengamatan yang dilakukan oleh Muhammad Isman R.H, SE, setidaknya ada enam kesalahan utama dalam memulai bisnis yang sering dilakukan dan kadang kita tidak sadar.

1. TIDAK MEMILIKI BUSINESS PLAN
Ibarat perahu berlayar tanpa tujuan, tidak memperhitungkan kapasitas angkut, dan tidak mempersiapkan keperluan pelayaran, maka seperti itulah entrepreneur tanpa Business Plan. Fungsi utama Business Plan adalah sebagai pedoman dalam menjalankan aktivitas bisnis. Pedoman ini meliputi gambaran umum situasi bisnis, organisasi, core competency, tujuan – tujuan yang ingin dicapai, dan sejumlah rencana strategis maupun taktis beserta sumber daya yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan tersebut. Oleh karena itu, Business Plan harus disusun secara komprehensif.
Banyak entrepreneur yang menyusun Business Plan hanya untuk menarik minat investor atau meminjam modal semata, sementara saat menjalankan bisnis praktis Business Plan tidak digunakan lagi.

2. TERLALU OPTIMIS / PESIMIS
Adakalanya entrepreneur terlalu optimis memandang peluang usaha. Saking optimisnya, sampai – sampai lupa memperhitungkan resiko dan kendala yang akan dihadapi. Ketika resiko datang menghadang, mereka tidak punya strategi untuk mengantisipasinya, dan bisnis yang baru dimulaipun akhirnya berantakan. Tapi ada juga entrepreneur yang malah terlalu pesimis menilai peluang usaha. Biasanya hal ini disebabkan oleh faktor hitung – hitungan bisnis yang terlalu rigid, dan keengganan mengambil resiko sedikitpun. Sikap terlalu pesimis bisa menyebabkan entrepreneur tidak berani mulai, dan cepat putus asa bila menghadapi kegagalan.

3. “I AM THE COMPANY”
Dalam memulai bisnis, sebaiknya entrepreneur mempunyai partner. Partner ini dapat berperan sebagai investor atau sebatas ikut mengelola (managing partner). Dengan adanya partner, setidaknya entrepreneur dapat berbagi peran dan tugas atau berdiskusi ketika harus mengambil
keputusan strategis. Kesalahan entrepreneur yang fatal adalah berusaha
mengerjakan segalanya sendiri, mulai dari menyusun Business Plan, mencari pinjaman modal, sampai menangani masalah pemasaran dan keuangan, atau yang lebih dikenal dengan istilah “I am the Company”.
Memilih partner bisnis juga jangan asal – asalan, pilihlah partner yang memiliki ketertarikan pada kegiatan bisnis yang akan atau sedang digeluti. Dan yang paling penting, partner juga harus menjadi kekuatan penyeimbang. Kalau seorang entrepreneur memiliki kekuatan dalam hal operasional, maka pilih partner yang memiliki kekuatan manajerial.
Khusus dalam hal memilih partner investor, pilihlah investor aktif yang bersedia memberi masukan – masukan berarti untuk pengembangan bisnis. Walaupun share nya agak besar tetapi peran dan tanggungjawabnya pun sepadan.

4. BERORIENTASI PADA UANG
Berbisnis tidak semata – mata untuk uang, dan tidak perlu dimulai dengan modal uang. Modal terbesar yang harus dimiliki oleh entrepreneur adalah Niat dan Kerja keras, yang berorientasi pada proses bukan hasil.
Sering kita temui entrepreneur yang justru mengalami kesulitan setelah memperoleh pinjaman dana, bahkan ada yang rugi besar – besaran karena kemampuanya mengelola keuangan tidak teruji.
Bisnis adalah sebuah “Masterpiece” yang tak ternilai, maka dari itu jangan coba – coba menghargainya hanya dengan uang.

5. SALAH MENGARTIKAN KEBEBASAN
Alasan klasik mengapa seseorang menjadi entrepreneur adalah memiliki kebebasan, terutama kebebasan waktu dan kebebasan finansial. Bebas yang dimaksud berarti kita memiliki hak yang disertai kemampuan untuk mengelola waktu dan juga finansial.
Kebebasan tersebut kerap disalah artikan dan tidak dimanfaatkan sebaik mungkin untuk mencapai kinerja professional. Walhasil, kegagalanlah yang diperoleh kemudian. Ingat, hukum waktu dan uang tidak pernah berubah… “waktu adalah uang”.

6. MELIHAT KEATAS, BUKAN KEDEPAN
Kesalahan terakhir yang biasa dilakukan entrepreneur adalah terlalu banyak melihat keatas, alias terlalu banyak melihat figur – figur pengusaha sukses yang bergelimang kemewahan. Sementara Visi dan Misi bisnis yang berada didepan mata terabaikan.
Dengan sikap seperti ini, tidak jarang entrepreneur malah menjadi plagiat yang mengcopy habis – habisan teknik dan style pengusaha sukses dalam menjalankan bisnis. Padahal teknik atau style tersebut belum tentu sesuai dengan visi, misi, dan tujuan yang ingin dicapai entrepreneur. Bahkan, mungkin tidak sesuai dengan kondisi si entrepreneur itu sendiri.
Apalah artinya bisnis bila dikelola dengan basis kesuksesan orang lain, bukan berbasis kompetensi. Yang lebih parah lagi kalau entrepreneur pemula meniru gaya hidup pengusaha sukses, padahal skala dan omzet bisnisnya belum seberapa.

Sesekali bolehlah kita melihat keatas hanya untuk
memotivasi diri dan memetik hikmah, bukan untuk
menduplikasi.

Sumber: http://andy.infoterkini.com/?p=49

14 Strategi Bisnis "Balita"

Konon 70 persen bisnis skala kecil (bisnis rumahan, bisnis perorangan, industri rumah tangga) gagal di tahun pertama operasinya. Sisanya yang 30 persen, terseok-seok di tahun kedua. Dari 30 persen tadi, hanya 10 persennya saja yang selamat memasuki tahun ketiga. Berikutnya hanya 5 persen yang beruntung bertahan hidup sampai tahun kelima. Nah, yang benar-benar berumur panjang dan sukses, konon tak sampai satu persen dari sisanya. Kenapa hal ini bisa terjadi ?

Mengapa? Banyak sebab! Modal minim, kurang pengalaman, keuangan yang payah, kesalahan manajemen, sedikit relasi, sampai terimbas resesi. Pendek kata, bisnis “balita” (usia di bawah lima tahun) memang rawan. Perlu pengelolaan ekstra ketat tapi dinamis, cerdas, plus kreatif. Jika Anda sedang merintis bisnis skala kecil, barangkali 14 strategi berikut ini bisa memberi inspirasi.

1. Rencana Bisnis
Ada guyonan, jika mau berwiraswasta jangan terlalu banyak membuat rencana. Bisa-bisa Anda hanya berhasil membuat rencana, tapi tak pernah berani menjalankannya. Ada benarnya juga. Tapi bisnis sekecil apapun perlu rencana. Jalankan saja sebuah bisnis, lalu sambil berjalan lakukan perencanaan-perencanaan matang. Jadikan rencana bisnis sebagai arahan, bukan sebagai penghalang.

2. Amankan Modal
Bisnis skala kecil biasanya modal sendiri dan itu pun terbatas jumlahnya. Bisa juga Anda didukung investor atau modal pinjaman. Jika demikian, hati-hatilah mengelolanya. Hindari perluasan biaya operasional di luar rencana bisnis semula. Cara terbaik mengamankan modal adalah dengan melakukan pengecekan posisi keuangan setiap hari. Amankan setiap pengeluaran, seolah-olah hidup Anda benar-benar tergantung dari cadangan modal tadi.

3. Potong Biaya
Penghematan adalah kata kunci pengamanan modal. Hindari semua biaya-biaya yang tidak perlu. Hindari tambahan biaya operasional. Upayakan selalu dapat harga diskon dari supplier. Jika beli tunai mahal, beli secara kredit atau menyewa bisa jadi pilihan. Sesuaikan pilihan teknologi dengan kebutuhan. Jika hanya butuh komputer untuk mengetik dan software program keuangan sederhana, jangan terobsesi pada komputer super canggih yang mahal harganya.

4. Laba Tunai
Direkomendasikan supaya Anda benar-benar punya laba tunai, bukan sekedar laba dalam pembukuan. Banyaknya piutang tidak mengindikasikan usaha Anda menguntungkan. Jadi jangan terjebak pada laba di atas kertas. Artinya, makin banyak transaksi tunai (cash and carry) makin bagus pula cashflow Anda. Salah satu sumber kebangkrutan bisnis balita adalah kegagalan mereka mencairkan laba di atas kertas menjadi laba tunai.

5. Kepuasan Pelanggan
Kelangsungan bisnis Anda ditentukan oleh kepuasan pelanggan. Maka jangan beri konsumen produk dan pelayanan bermutu rendah. Beri jaminan kepuasan pelanggan! Bila memungkinkan, galakkan after sales service (layanan purna jual). Jadikan hal ini sebagai kredo bisnis Anda. Setelah itu, konsistenlah memenuhi janji Anda. Jika produk cacat, gantilah! Jika ada komplain, tampunglah dan adakan perbaikan.

6. Pelanggan Produktif
Meskipun kepuasan pelanggan jadi komitmen utama, fokuslah pada pelanggan yang paling banyak memberikan laba. Kepada merekalah kredo kepuasan pelanggan diberlakukan secara ketat. Ini demi efisiensi biaya pelayanan. Dari 100 pelanggan, mungkin hanya 20 persen yang memberikan laba terbanyak. Walau begitu perlakukan 80 persen sisanya dengan sangat bijaksana. Di antara mereka selalu terbuka kemungkinan bisa memberi lebih banyak laba.

7. Tuailah Referal
Dampak nyata kepuasan pelanggan adalah rekomendasi pada bisnis Anda. Setiap orang paling apes punya 50 teman dekat, relasi, atau, koneksi. Jika punya 10 pelanggan saja yang puas, maka asal hitung saja Anda punya 500 prospek baru. Kalau pelanggan puas, tak perlu ragu meminta rekomendasi mereka. Banyak referal (rujukan) bisa Anda dapat. Untuk bisnis tertentu (misalnya jasa konsultasi), surat-surat kepuasan pelanggan bisa jadi magnet bisnis yang efektif.

8. Iklan dan Promosi
Supaya publik tahu jasa dan produk Anda, beriklanlah. Untuk menekan anggaran, gunakan iklan baris atau iklan kolom yang murah. Pasang iklan dalam waktu yang cukup, dan anggap ini sebagai investasi. Tidak selamanya iklan dan promosi mahal. Brosur, katalog, kartu nama, stiker, adalah instrumen baku. Anda pun bisa ambil bagian dalam sponsorisasi aneka kegiatan olah raga atau amal untuk meningkatkan brand awareness.

9. Manfaatkan Koneksi
Koneksi dan relasi bisnis adalah mutlak. Kenalilah orang-orang di posisi kunci seperti bagian pembelian atau marketing. Manfaatkan semua lini di mana Anda terlibat, seperti lingkungan sekolah, kampus, sekitar rumah, lingkungan kerja, organisasi sosial-politik, klub-klub hobi, dll. Bukan saja berpotensi jadi customer, koneksi dan relasi bisa memberi Anda tambahan modal, proyek, referensi, koneksi baru, dsb.

10. Ikutlah Ekspo Bisnis
Ikutlah berbagai pameran untuk berpromosi. Di sini segala keunggulan dan keunikan produk bisa dilihat banyak orang. Inilah kesempatan untuk memperluas networking bisnis, bertemu pelanggan potensial, dan memperoleh feedback langsung dari konsumen. Jika beruntung, Anda bisa menarik minat investor besar. Dengan penataan stan yang menawan, serta keramahan, Anda bakal menarik minat banyak pengunjung.

11. Jadilah PR
Yang paling diabaikan oleh usaha rumahan adalah soal public relations. Sekecil apapun bisnis Anda, jangan abaikan hal ini. Kerpibadian yang hangat dan menawan bisa jadi humas yang baik. Itu pun bisa mendongkrak citra produk (bisnis) Anda. Bila ada kesempatan, jalin hubungan sedekat-dekatnya dengan para jurnalis media cetak, televisi, maupun radio. Dari merekalah Anda dapat publikasi rendah biaya.

12. Bentuklah Sistem
Bisnis rumahan menjadikan Anda bos bagi diri Anda sendiri. Maka sukses tidaknya bisnis itu sangat tergantung pada upaya Anda sendiri. Anda pun akan jadi sebuah sistem. Namun jangan terus-menerus one-man show. Anda harus mulai membentuk sistem yang memungkinkan usaha itu bisa berjalan walau tanpa kehadiran fisik Anda. Ini penting jika suatu saat bisnis berkembang volumenya, dan membutuhkan lebih banyak sumber daya.

13. Volume Bisnis
Banyak bisnis rumahan mendadak dapat order berlipat ganda. Sayang jika tidak siap, order akan lewat begitu saja. Jika produk dan servis Anda nomor satu, siapkan sistem dan SDM yang bisa menampung pertambahan volume bisnis secara cepat. Di sinilah Anda perlu memaksimalkan networking bisnis untuk berbagi order tanpa kehilangan keuntungan.

14. Fleksibel
Anda bisa saja yakin dengan prospek sebuah bisnis dan cara-cara yang sekarang Anda pakai untuk menjalankannya. Namun jangan lupa, bersiaplah untuk melakukan banyak modifikasi rencana dan inovasi strategi. Tinggalkan cara-cara yang sudah terbukti tidak memberikan hasil, dan jangan memaksakan keyakinan Anda sendiri. Bisa mengevaluasi kinerja bisnis, peka dengan perubahan tren, pandai menangkap peluang, serta berani ambil risiko, adalah karakter para entrepreneur umumnya.

Sumber: http://andy.infoterkini.com/?p=48

Business Plan

Business Plan (BP) pada dasarnya adalah deskripsi tertulis mengenai masa depan bisnis anda, yang menjelaskan APA dan BAGAIMANA rencana anda. BP biasanya digunakan oleh wiraswastawan yang sedang mencari calon investor untuk menyampaikan visi mereka kepada calon investor. BP juga sering kali digunakan oleh perusahaan untuk menarik karyawan penting, prospek bisnis baru, berhubungan dengan supplier, atau bahkan hanya untuk diberikan kepada siapapun agar mereka lebih mengerti bagaimana mengelola perusahaan anda secara lebih baik.

BP pada umumnya terdiri dari Tujuan bisnis, Strategi yang digunakan untuk mencapainya, Masalah potensial yang kira-kira akan dihadapi dan cara mengatasinya, Struktur organisasi (termasuk jabatan dan tanggung jawab), dan Modal yang diperlukan untuk membiayai perusahaan anda dan bagaimana mempertahankannya sampai mencapai break even.

Menarik tidaknya sebuah BP juga tergantung pada bagaimana cara Anda menulis dan menyusunnya. Seringkali kita memiliki ide bisnis yang brilian, namun belepotan dalam mengungkapkannya dalam bentuk BP. Sebuah perencanaan Bisnis akan baik apabila mengikuti pedoman yang telah disepakati secara umum dalam dunia bisnis, baik dari segi susunan maupun isi.

Ada 3 bagian utama dari sebuah Perencanaan Bisnis:

Yang pertama adalah Konsep Bisnis, yang menjelaskan secara rinci industri yang digeluti, struktur bisnis, produk dan jasa yang ditawarkan dan bagaimana rencana anda untuk mensukseskan bisnis anda.

Yang kedua adalah market/pasar, yang membahas dan menganalisa konsumen potensial: siapa dan dimana mereka berada, apa yang menyebabkan mereka mau membeli, dan lain-lain. Dalam bagian ini, anda juga perlu menjelaskan persaingan yang akan dihadapi dan bagaimana anda memposisikan diri anda untuk memenangkannya.

Yang terakhir yaitu Finansial, mencakup estimasi pendapatan dan arus kas, neraca serta rasio keuangan lainnya, seperti analisis break even. Untuk ini anda mungkin akan memerlukan bantuan seorang akuntan dan program software spreadsheet yang bagus.

Ketiga bagian tersebut dapat dibagi-bagi lebih jauh lagi, menjadi 7 komponen kunci:

1. Executive summary
2. Deskripsi Bisnis
3. Strategi pasar
4. Analisis kompetitif
5. Rencana Desain dan Pengembangan
6. Rencana Operasi dan Manajemen
7. Faktor-faktor keuangan

Panjang pendeknya sebuah BP sangatlah tergantung fungsi perencanaan bisnis itu sendiri. Biasanya BP setebal 15 – 20 halaman. Namun jika anda mengajukan sebuah bisnis baru atau bahkan industri baru, maka anda akan memerlukan penjelasan lebih untuk menyampaikannya, bahkan mungkin sampai 100 halaman lebih. Demikian pula jika anda membutuhkan jutaan dolar sebagai modal untuk memulai suatu usaha yang beresiko, maka anda akan perlu untuk menyediakan banyak penjelasan untuk meyakinkan. Namun jika anda hanya ingin menggunakan perencanaan tersebut untuk tujuan internal, untuk mengatur bisnis anda, maka sebuah versi singkat sudah cukup memadai.

Sumber: http://www.swa.co.id/sekunder/konsultasi/manajemen/strategi/details.php?cid=4&id=67

Sunday, January 13, 2008

Weight as a variable

1. Current Weight
$weight = @eval($::char->{weight})

2. Max Weight
$mweight = @eval($::char->{weight_max})

3. Current weight percentage
$wpercent = @eval($weight/$mweight*100)

4. To get untill 95% weight from your current weight
$tryToGet = Unknown
do eval $::Macro::Data::varStack{tryToGet} = sprintf("%.0f", ($::char->{weight_max} - $::char->{weight}) * 95 / 100 )

5. To get how many items base on its weight untill 95% of your body weight from your current weight
$ItemCanGet = Unknown
$itemWeight = 15 #Let say Royal Jelly
do eval $::Macro::Data::varStack{ItemCanGet} = sprintf("%.0f", ($::char->{weight_max} - $::char->{weight}) * 95 / 100 / $itemWeight )

==============================

1. $weight = $::char->{weight} - Its perl eval and you shud used the @eval(...put perl here...)... pls take a look again at my last comments.

2. do eval $::Macro::Data::varStack{ItemCanGet} - Variables in Macro plugin (at least untill version 1.3.5) are stored in a global hash variable call %varStack (inside Macro::Data package) - taken from buggless comment. So, I did set the $ItemCanGet inside macro variable.. and later on, using perl eval to look inside those varStack (coz we need to do culculation using an eval not macro). Note: We cant simply create any macro variable using eval (as buggless said before XD), so we set macro variable 1st and then modify its value by using an eval. In this case, we modify the ItemCanGet that we set 1st inside macro variable.

3. sprintf("%.0f", - To get rid of the decimal point in our divide operations.
Quote:
"%.1f" is /10 --> ex: 0.1
"%.2f" is /100 --> ex: 0.01
"%.3f" is /1000 --> ex: 0.001

Saturday, January 12, 2008

Hakikat Kepemimpinan

Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat selalu membutuhkan adanya pemimpin. Di dalam kehidupan rumah tangga diperlukan adanya pemimpin atau kepala Keluarga. Di sebuah Negara ada Presidennya.

Ini semua menunjukkan betapa penting kedudukan pemimpin dalam suatu masyarakat, baik dalam skala yang kecil apalagi skala yang besar.

Dari pengantar di atas, terasa dan terbayang sekali betapa dalam pandangan terhadap "pemimpin" yang mempunyai kedudukan yang sangat penting, karenanya siapa saja yang menjadi pemimpin tidak boleh dan jangan sampai menyalahgunakan kepemimpinannya untuk hal-hal yang tidak benar.

Karena itu, para pemimpin dan orang-orang yang dipimpin harus memahami hakikat kepemimpinan dalam pandangan yang mendalam sbb :

1. Tangung Jawab, Bukan Keistimewaan.

Ketika seseorang diangkat atau ditunjuk untuk memimpin suatu lembaga atau institusi, maka ia sebenarnya mengemban tanggung jawab yang besar sebagai seorang pemimpin yang harus mampu mempertanggung jawabkannya,.

Bukan hanya dihadapan manusia tapi juga dihadapan Allah. Oleh karena itu, jabatan dalam semua level atau tingkatan bukanlah suatu keistimewaan sehingga seorang pemimpin atau pejabat tidak boleh merasa menjadi manusia yang istimewa sehingga ia merasa harus diistimewakan dan ia sangat marah bila orang lain tidak
mengistimewakan dirinya.

2. Pengorbanan, Bukan Fasilitas

Menjadi pemimpin atau pejabat bukanlah untuk menikmati kemewahan atau kesenangan hidup dengan berbagai fasilitas duniawi yang menyenangkan, tapi justru ia harus mau berkorban dan menunjukkan pengorbanan, apalagi ketika masyarakat yang dipimpinnya berada dalam kondisi sulit dan sangat sulit.

Karena itu menjadi terasa aneh bila dalam anggaran belanja negara atau propinsi dan tingkatan yang dibawahnya terdapat anggaran dalam puluhan bahkan ratusan juta untuk membeli pakaian bagi para pejabat, padahal ia sudah mampu membeli pakaian dengan harga yang mahal sekalipun dengan uangnya sendiri sebelum ia menjadi pemimpin atau pejabat.

3. Kerja Keras, Bukan Santai.

Para pemimpin mendapat tanggung jawab yang besar untuk menghadapi dan mengatasi berbagai persoalan yang menghantui masyarakat yang dipimpinnya untuk selanjutnya mengarahkan kehidupan masyarakat untuk bisa menjalani kehidupan yang baik dan benar serta mencapai kemajuan dan kesejahteraan.

Untuk itu, para pemimpin dituntut bekerja keras dengan penuh kesungguhan dan optimisme.

4. Melayani, Bukan Sewenang-Wenang.

Pemimpin adalah pelayan bagi orang yang dipimpinnya, karena itu menjadi pemimpin atau pejabat berarti mendapatkan kewenangan yang besar untuk bisa melayani masyarakat dengan pelayanan yang lebih baik dari pemimpin sebelumnya

Oleh karena itu, setiap pemimpin harus memiliki visi dan misi pelayanan terhadap orang-orang yang dipimpinnya guna meningkatkan kesejahteraan hidup, ini berarti tidak ada keinginan sedikitpun untuk membohongin rakyatnya apalagi menjual rakyat, berbicara atas nama rakyat atau kepentingan rakyat padahal sebenarnya untuk kepentingan diri, keluarga atau golongannya.

Bila pemimpin seperti ini terdapat dalam kehidupan kita, maka ini adalah pengkhianatan yang paling besar.

5. Keteladanan dan Kepeloporan, Bukan Pengekor.

Dalam segala bentuk kebaikan, seorang pemimpin seharusnya menjadi teladan dan pelopor, bukan malah menjadi pengekor yang tidak memiliki sikap terhadap nilai-nilai kebenaran dan kebaikan. Ketika seorang pemimpin menyerukan kejujuran kepada rakyat yang dipimpinnya, maka ia telah menunjukkan kejujuran itu. Ketika ia menyerukan hidup sederhana dalam soal materi, maka ia tunjukkan kesederhanaan bukan malah kemewahan.
Masyarakat sangat menuntut adanya pemimpin yang bisa menjadi pelopor dan teladan dalam kebaikan dan kebenaran..

Dari penjelasan di atas, kita bisa menyadari betapa penting kedudukan pemimpin bagi suatu masyarakat, karenanya jangan sampai kita salah memilih pemimpin, baik dalam tingkatan yang paling rendah seperti kepala rumah tanggai, ketua RT, pengurus masjid, lurah dan camat apalagi sampai tingkat tinggi seperti anggota parlemen, bupati atau walikota, gubernur, menteri dan presiden.

Karena itu, orang-orang yang sudah terbukti tidak mampu memimpin, menyalahgunakan kepemimpinan untuk misi yang tidak benar dan orang-orang yang kita ragukan untuk bisa memimpin dengan baik dan kearah kebaikan, tidak layak untuk kita percayakan menjadi pemimpin.

Sumber: http://www.gsn-soeki.com/wouw

Friday, January 11, 2008

Etika Dalam Kepemimpinan (Sara Boatman)

1--Apakah "Etika" itu?

Pada pengertian yang paling dasar, etika adalah sistem nilai pribadi
yang digunakan memutuskan apa yang benar, atau apa yang paling tepat, dalam
suatu situasi tertentu; memutuskan apa yang konsisten dengan sistem nilai yang
ada dalam organisasi dan diri pribadi.

2--Apakah "Kepemimpinan yang Etis" itu

Kepemimpinan yang etik menggabungkan antara pengambilan keputusan etik
dan perilaku etik; dan ini tampak dalam konteks individu dan organisasi.
Tanggung jawab utama dari seorang pemimpin adalah membuat keputusan etik
dan berperilaku secara etik pula, serta mengupayakan agar organisasi
memahami dan menerapkannya dalam kode-kode etik.

3--Saran-saran untuk perilaku secara etik

Bila pemimpin etik memiliki nilai-nilai etika pribadi yang jelas dan
nilai-nilai etika organisasi, maka perilaku etik adalah apa yang
konsisten sesuai dengan nilai-nilai tersebut. Ada beberapa saran yang diadaptasi
dari Blanchard dan Peale (1998) berikut ini:

a--berperilakulah sedemikian rupa sehingga sejalan dengan tujuan anda
(Blanchard dan Peale mendefinisikannya sebagai jalan yang ingin anda
lalui dalam hidup ini; jalan yang memberikan makna dan arti hidup anda.)
Sebuah tujuan pribadi yang jelas merupakan dasar bagi perilaku etik. Sebuah
tujuan organisasi yang jelas juga akan memperkuat perilaku organisasi yang
etik.

b--berperilakulah sedemikian rupa sehingga anda secara pribadi merasa
bangga akan perilaku anda. Kepercayaan diri merupakan seperangkat peralatan
yang kuat bagi perilaku etik. Bukankah kepercayaan diri merupakan rasa bangga

(pride) yang diramu dengan kerendahan hati secara seimbang yang akan
menumbuhkan keyakinan kuat saat anda harus menghadapi sebuah dilema
dalam menentukan sikap yang etik.

c--berperilakulah dengan sabar dan penuh keyakinan akan keputusan anda
dan diri anda sendiri. Kesabaran, kata Blanchard dan Peale, menolong kita
untuk bisa tetap memilih perilaku yang terbaik dalam jangka panjang, serta
menghindarkan kita dari jebakan hal-hal yang terjadi secara tiba-tiba.

d--berperilakulah dengan teguh. Ini berarti berperilaku secara etik
sepanjang waktu, bukan hanya bila kita merasa nyaman untuk melakukannya.

Seorang pemimpin etik, menurut Blanchard dan Peale, memiliki ketangguhan
untuk tetap pada tujuan dan mencapai apa yang dicita-citakannya.

e--berperilakulah secara konsisten dengan apa yang benar-benar penting.
Ini berarti anda harus menjaga perspektif. Perspektif mengajak kita untuk
melakukan refleksi dan melihat hal-hal lebh jernih sehingga kita bisa
melihat apa yang benar-benar penting untuk menuntun perilaku kita
sendiri.

(diadaptasi dari presentasi "Ethical Leadership: Doing What's Right",
Sara A. Boatman)

Thursday, January 10, 2008

Kepuasan Ada di Rasa Syukur

Siang itu tadi temanku tiba-tiba nelpon. Makan siang yuk, ajaknya. Oke,
jawabku. So she picked me up at the lobby of Jakarta Stock Exchange
Building.

Selepas SCBD, kami masih belum ada ide mau makan dimana. Ide ke soto Pak
Sadi segera terpatahkan begitu melihat bahwa yang parkir sudah sampai
sebrang-sebrang.

Akhirnya kami memutuskan makan gado-gado di Kertanegara. Bisa makan di mobil
soalnya sampai di sana masih sepi. Baru ada beberapa mobil. Kami masih bisa
milih parkir yang enak. Mungkin karena masih pada jumatan. Begitu parkir,
seperti biasa, joki gado-gado sudah menanyakan mau makan apa, minum apa.

Kami pesan dua porsi gado-gado + teh botol. Sambil menunggu pesanan, kami
pun ngobrol. So, ketika tiba2 ada seorang pemuda lusuh nongol di jendela
mobil kami, kami agak kaget.

"Semir om?" tanyanya. Aku lirik sepatuku. Ugh, kapan ya terakhir aku nyemir
sepatuku sendiri? Aku sendiri lupa. Saking lamanya. Maklum, aku kan karyawan
sok sibuk...Tanpa sadar tangan ku membuka sepatu dan memberikannya pada dia.
Dia menerimanya lalu membawanya ke emperan sebuah rumah. Tempat yang
terlihat dari tempat kami parkir. Tempat yang cukup teduh. Mungkin supaya
nyemirnya nyaman.

Pesanan kami pun datang. Kami makan sambil ngobrol. Sambil memperhatikan
pemuda tadi nyemir sepatu ku. Pembicaraan pun bergeser ke pemuda itu. Umur
sekitar 20-an. Terlalu tua untuk jadi penyemir sepatu. Biasanya pemuda umur
segitu kalo tidak jadi tukang parkir or jadi kernet,ya jadi pak ogah.
Pandangan matanya kosong. Absent minded. Seperti orang sedih. Seperti ada
yang dipikirkan. Tangannya seperti menyemir secara otomatis. Kadang2 matanya
melayang ke arah mobil-mobil yang hendak parkir (sudah mulai ramai).

Lalu pandangannya kembali kosong. Perbincangan kami mulai ngelantur
kemana-mana. Tentang kira2 umur dia berapa, pagi tadi dia mandi apa enggak,
kenapa dia jadi penyemir dll. Kami masih makan saat dia selesai menyemir.
Dia menyerahkan sepatunya pada ku. Belum lagi dia kubayar, dia bergerak
menjauh, menuju mobil-mobil yang parkir sesudah kami.

Mata kami lekat padanya. Kami melihatnya mendekati sebuah mobil. Menawarkan
jasa. Ditolak. Nyengir. Kelihatannya dia memendam kesedihan. Pergi ke mobil
satunya. Ditolak lagi. Melangkah lagi dengan gontai ke mobil lainnya.
Menawarkan lagi. Ditolak lagi. Dan setiap kali dia ditolak, sepertinya kami
juga merasakan penolakan itu.

Sepertinya sekarang kami jadi ikut menyelami apa yang dia rasakan. Tiba-tiba
kami tersadar. Konyol ah. Who said life would be fair anyway. Kenapa jadi
kita yang mengharapkan bahwa semua orang harus menyemir? Hihihi...

Perbincangan pun bergeser ke topik lain. Di kejauhan aku masih bisa melihat
pemuda tadi, masih menenteng kotak semirnya di satu tangan, mendapatkan
penolakan dari satu mobil ke mobil lainnya. Bahkan, selain penolakan,di
beberapa mobil, dia juga mendapat pandangan curiga.

Akhirnya dia kembali ke bawah pohon. Duduk di atas kotak semirnya. Tertunduk
lesu...Kami pun selesai makan. Ah, iya. Penyemir tadi belum aku bayar.
Kulambai dia. Kutarik 2 buah lembaran ribuan dari kantong kemejaku. Uang
sisa parkir. Lalu kuberikan kepadanya. Soalnya setahu ku jasa nyemir
biasanya 2 ribu rupiah

Dia berkata kalem "Kebanyakan om. Seribu aja".

BOOM. Jawaban itu tiba-tiba serasa petir di hatiku.
It-just-does-not-compute-with-my-logic!
Bayangkan, orang seperti dia masih berani menolak uang yang bukan hak-nya.

Aku masih terbengong-bengong waktu nerima uang seribu rupiah yang dia
kembalikan. Se-ri-bu Ru-pi-ah. Bisa buat apa sih sekarang? But, dia merasa
cukup dibayar segitu. Pikiranku tiba-tiba melayang. Tiba-tiba aku merasa
ngeri. Betapa aku masih sedemikian kerdil. Betapa aku masih suka merasa
kurang dengan gaji ku. Padahal keadaanku sudah sangat jauh lebih baik dari
dia.

Tuhan sudah sedemikian baik bagiku, tapi perilaku-ku belum seberapa
dibandingkan dengan pemuda itu, yang dalam kekurangannya, masih mau memberi,
ke aku, yang sudah berkelebihan.

Siang ini aku merasa mendapat pelajaran berharga.
Siang ini aku seperti diingatkan.
Bahwa kejujuran itu langka.
Bahwa kepuasan itu adanya di rasa syukur.

Sumber: http://www.gsn-soeki.com/wouw/

Wednesday, January 09, 2008

Sepuluh Hukum Kepemimpinan I (Bill Newman)

Apa yang membedakan seorang manajer yang memiliki karakter "pemimpin"
dengan manajer "biasa" walaupun ia telah mengikuti berbagai macam pelatihan
kepemimpinan yang sangat keras? Mengapa ada pemimpin yang seperti
ditakdirkan sebagai orang besar, sedangkan ada pemimpin lainnya
disalahkan atau menyalahkan diri karena memimpin secara biasa-biasa saja. Jika
menurut anda perbedaan tersebut hanya terletak pada "keberuntungan" atau
"kesempatan", pendapat anda tidak sepenuhnya benar. Hanya sebagian kecil
dari pemimpin sukses mencapai keberhasilan besar melalui keberuntungan
dan kesempatan.

Berdasarkan suatu data statistik, banyak pemimpin besar meraih
keberhasilan dalam pekerjaan dan kehidupannya melalui seperangkat
hukum kepemimpinan yang mendetail dan merupakan prinsip-prinsip yang
telah diujicobakan. Sedangkan manajer "biasa", tanpa mengecilkan usaha
mereka dalam menjalankan sistem kepemimpinan lain yang cukup beragam,
pada kenyataannya tidak mempunyai banyak kesempatan untuk menjadi
seorang pemimpin sejati.

Dengan menerima kesepuluh prinsip ini atau paling tidak sebagian besar
darinya, kesuksesan berada tak jauh dari anda. Berikut adalah ringkasan
dari 10 hukum kepemimpinan yang telah diterima dan dikembangkan oleh
pelaku-pelaku bisnis dengan landasan yang cukup kuat sehingga
memungkinkan seorang manajer "biasa" membuat satu lompatan besar menjadi
seorang "pemimpin".

Hukum 1--Pemimpin memiliki visi

Visi adalah kunci untuk memahami kepemimpinan. Seorang pemimpin sejati
tidak pernah kehilangan kemampuan seperti yang dimiliki anak-anak:
berimajinasi/bermimpi. Dan ini mereka ujudkan dalam bentuk visi; yaitu
impian tentang masa depan; atau seperti melihat sebuah lukisan besar
yang mana pemimpin itu sendiri ikut melukis suatu bagiannya. Dengan demikian,
visi menjadi sebuah tantangan dunia bagi setiap pemimpin untuk membuat
jejak langkah di sana, melalui kekuatan ide, kepribadian, nilai-nilai diri,
dan harapan.

Bagi kepemimpinan dan pengikutnya, tidak ada sesuatu yang lebih
menyenangkan dan memotivasi orang daripada visi untuk mendapatkan sesuatu
yang istimewa.
Maka, kepemimpinan adalah kemampuan untuk mempengaruhi orang lain untuk
meraih tujuan yang diminati oleh sebagian besar kelompok tersebut. Di
lain pihak, tujuan tersebut menguntungkan bagi mereka. Oleh karena itu,
visi bersama haruslah menjadi perasaan yang komperehensif tentang posisi,
arah, dan cara hidup untuk meraih tujuan, dan apa yang akan dilakukan
ketika tujuan itu teraih. Visi seperti api ungun di perkemahan, dimana
orang-orang berkumpul mengelilinginya karena cahaya, energi, kehangatan,
dan kebersamaan.

Meski visi adalah impian, namun visi harus fokus dan khas. Visi yang
terlalu luas akan membuat pemimpin seolah-olah berada di awang-awang
dan kehilangan keberanian untuk mencoba. Visi anda harus berpijak pada
kenyataan sehingga tujuan bisa diraih dengan sukses dan tidak mematahkan
semangat anda dan orang-orang di sekitar anda.

Hukum 2--Pemimpin memiliki disiplin.

Di dunia ini berlaku hukum tak tertulis, apakah kita akan mendisiplinkan
diri sendiri atau yang akan didisiplinkan oleh orang lain. Keberhasilan
yang berlangsung terus menerus tidak bisa diraih tanpa disiplin,
ketekunan, dan usaha. Disiplin merupakan mandat bagi pemimpin untuk meraih
tujuan dan visi-visinya.

Salah satu kesalahan besar generasi kita adalah tidak terlalu menghargai
pentingnya kedisiplinan. Banyak orang terpengaruh oleh budaya superfisial
yang cenderung menolak segala bentuk pengekangan, dan mengikuti dorongan
alami diri kita untuk bersikap santai. Kita dengan mudah melupakan fakta
bahwa segala sesuatu dalam hidup tidak mungkin diraih tanpa disiplin.

Sangat sering terjadi seorang pemimpin meraih sukses pada tingkat
tertentu, dan kemudian berhenti dan kehilangan semangat bertarung. Mereka
harus kembali pada titik start mereka. Ini dikarenakan mereka kehilangan
milik mereka yang berharga, yaitu, kedisiplinan diri.

Hukum 3--Pemimpin memiliki kebijaksanaan

Pengetahuan dapat diingat, sedangkan kebijaksanaan menembus batas-batas
fisik. Kebijaksanaan adalah sesuatu yang memudahkan kita untuk
menggunakan pengetahuan secara benar. Kita hidup di jaman ledakan
penegtahuan. Berbagai studi memperlihatkan bahwa setengah dari pengetahuan
manusia telah ditemuan satu dekade yang lalu dan seterusnya. Lebih lanjut,
pengetahuan kita akan berlipat ganda pada dekade terakhir.

Pemimpin yang efektif selalu mengembangkan pengetahuannya dengan membaca.
Mereka mengumpulkan fakta yang diperlukan sehingga tidak terbatasi
dirinya dalam mengambil keputusan. Dengan berpengetahuan, seorang pemimpin
tidak takut, ragu-ragu, atau khawatir dalam menyelesaikan pekerjaan, dan
terbatu untuk mengatasi banyak masalah, sekaligus merupakan alat untuk
berproses.

Kebijaksanaan adalah bagaimana menggunakan pengetahuan yang dimiliki
dengan sebaik-baiknya, dan mengembangkan kemampuan untuk menyatakan pendapat.
Seorang pemimpin yang efektif memiliki penglihatan kebijaksanaan bukan
dari matanya, namun dari dalam dirinya. Kebijaksanaan menuntun diri seorang
pemimpin untuk mengenali suatu masalah terlebih dahulu sebelum masalah
itu terlanjur menjadi besar.

Hukum 4--Pemimpin memiliki keberanian.

Keberanian seringkali diungkapkan dengan istilah yang berbeda-beda. Ada
yang menyatakannya dalam istilah: kegagahan, kepahlawanan, kecerdikan.
Tetapi apa pun namanya, keberanian tidak pernah dapat didefinisikan.
Keberanian adalah suatu jalan untuk mengekspresikan kekuatan di dalam diri
kita, inti dari pikiran kita untuk melawan semua keganjilan, peneguhan bagi
kita untuk tetap bertahan pada posisi tersebut.

Tingginya gunung Himalaya menantang keberanian seorang pendaki.
Kesulitan pekerjaan memotivasi seorang pemimpin, dan kebutuhan akan
bersaing memberikan inspirasi bagi pemimpin. Kepemimpinan sejati adalah
mengatakan "ya" untuk hidup, tidak menghindar ketika tugas memanggil.
Keberanian adalah bertindak dalam ketakutan, bukan tanpa ketakutan. Keberanian
adalah melakukan hal yang ditakutkan. Jika anda melakukan sesuatu tanpa takut,
itu bukan keberanian.

Kepemimpinan adalah perjuangan yang memerlukan keberanian. Memiliki
keberanian berarti melakukan sesuatu yang diyakini benar, dan bersedia
menanggung segala resikonya. Ada beberapa alasan untuk menciptakan
keberanian: pemimpin sejati ingin hidup untuk sebuah alasan yang benar
dan luhur. Pemimpin sejati sadar bahwa orang memperhitungkan mereka,
organisasi dan tim mereka, bahkan keluarga mereka. Pemimpin sejati selalu
menjaga visinya menyala dalam dirinya. Inilah yang menumbuhkan keberanian.

(Bill Newman, The 10 Laws of Leadership)

Tuesday, January 08, 2008

Bukan berat Beban yang membuat kita Stress, tetapi lamanya kita memikul beban tersebut

Bukan berat Beban yang membuat kita Stress, tetapi lamanya kita memikul beban tersebut.
Stephen Covey

Pada saat memberikan kuliah tentang Manajemen Stress, Stephen Covey mengangkat sebuah segelas berisi air dan bertanya kepada para siswanya:"Seberapa berat menurut anda kira segelas air ini?"

Para siswa menjawab mulai dari 200 gr sampai 500 gr. "Ini bukanlah masalah berat absolutnya, tapi tergantung berapa lama anda memegangnya." kata Covey.

"Jika saya memegangnya selama 1 menit, tidak ada masalah. Jika saya memegangnya selama 1 jam, lengan kanan saya akan sakit. Dan jika saya memegangnya selama 1 hari penuh, mungkin anda harus memanggilkan ambulans untuk saya. Beratnya sebenarnya sama, tapi semakin lama saya memegangnya, maka bebannya akan semakin berat."

"Jika kita membawa beban kita terus menerus, lambat laun kita tidak akan mampu membawanya lagi. Beban itu akan meningkat beratnya." lanjut Covey. "Apa yang harus kita lakukan adalah meletakkan gelas tersebut, istirahat sejenak sebelum mengangkatnya lagi".

Kita harus meninggalkan beban kita secara periodik, agar kita dapat lebih segar dan mampu membawanya lagi.

Jadi sebelum pulang ke rumah dari pekerjaan sore ini, tinggalkan beban pekerjaan. Jangan membawa pulang beban. Beban itu dapat diambil lagi besok. Apapun beban yang ada dipundak anda hari ini, coba tinggalkan sejenak jika bisa. Setelah beristirahat nanti dapat diambil lagi.

Hidup ini singkat, jadi cobalah menikmatinya dan memanfaatkannya...!!
Hal terindah dan terbaik di dunia ini tak dapat dilihat, atau disentuh, tapi dapat dirasakan jauh di relung hati kita.

Monday, January 07, 2008

Mengecek Hasil Pekerjaan Sendiri

Seorang anak lelaki masuk ke sebuah apotek, menarik peti minuman dan meletakkannya di dekat telepon umum.
Ia naik ke atasnya sehingga dapat mencapai tombol-tombol yang ada pada telepon. Lalu mulailah ia menekan tombol sampai tujuh dijit. Saya menyimak percakapannya.

Ia berkata, "Bu, apakah Anda membutuhkan bantuan untuk membersihkan kebun Anda?"
Wanita di telepon itu menjawab, "Saya sudah membayar seseorang untuk membersihkannya.-"
"Bu, Anda dapat membayar saya setengah harga saja."
Sepertinya wanita itu sudah puas dengan hasil kerja dari orang tersebut...

Namun anak itu tak kenal putus asa dan menawarkan, "Bu, saya juga akan menyapu pinggiran jalan dan trotoar rumah Anda, sehingga pada hari Minggu nanti Anda akan memiliki halaman terindah di North Palm Beach, Florida."
Lagi-lagi wanita itu menolak.

Dengan senyum, anak itu meletakkan gagang telepon.

Sang pemilik apotek menghampiri anak itu dan berkata, "Nak, saya suka sikapmu itu. Saya mengagumi semangat yang kaumiliki. Bagaimana kalau kamu bekerja untuk saya saja?"

Anak itu menjawab, "Tidak, Pak. Terima kasih. Sebenarnya saya hanya mengecek hasil pekerjaan saya sendiri."

(noname)

Sunday, January 06, 2008

openkore language

Go to control\sys.txt look for locale.

it should say locale pt

change it to locale en